Pages

Rabu, 09 Februari 2011

Internet , Warnet atau HP Momok Masyarakat Awam






Sebagian siswa SMP tidak mau diajari Internet, setelah di tanya gurunya, anak tersebut tidak boleh belajar Intenet oleh orang tuanya. Sehingga anak tersebut malahan menjadi bulan-bulanan temannya, karena siswa itu dianggap Gaptek (gagap teknologi) dan kurang gaul.

Seorang guru IPA disalah satu SMP di Kabupaten Klaten, melarang guru komputer yang akan mengajari siswanya untuk belajar Internet. Maklum guru tersebut tidak kenal komputer apalagi Internet. Setelah diberi penjelasan, guru IPA tersebut tidak melarang lagi. Setelah mengetahui tentang Internet, guru IPA tersebut menyuruh istrinya untuk belajar Internet.

Kepala Sekolah di salah satu SMP di Kabupaten Klaten, melarang siswanya belajar Internet. Kepala Sekolah itu merasa kawatir, kalau siswanya mengakses Internet. Kekawatiran itu akibat ketidaktahuan tentang dunia Internet. Setelah Kepala Sekolah tersebut diajari Internet, akhirya memberikan izin siswanya untuk belajar Internet.

Bagi sebagian masyarakat desa, Internet adalah sesuatu yang jorok, porno, saru bahkan bisa dibilang Internet itu menyesatkan. Pendapat ini didapat berdasarkan hasil survey di masyarakat pedesaan. Sehingga mereka melarang anaknya belajar Internet, apalagi pergi ke Warnet. Akhirnya anak-anak pergi ke Warnet dengan cara sembunyi-sembunyi.

Tak ada yang bisa menghalangi pesatnya kemajuan Teknologi Informasi dalam kehidupan kita. Abad teknologi informasi telah merambah dalam segala aspek pergaulan, bahkan sudah masuk kedalam pos ronda di kampung-kampung Indonesia. Hingga di sebagian masyarakat merasa kawatir dengan kehadiran Internet ini. Memang perlu di apresiasi kekawatiran itu, karena berbagai pemberitaan media masa yang selalu mempublikasikan kejadian-kejadian negatif. Seperti siswa-siswi melakukan hal-hal yang tidak senonoh di Warnet (Warung Internet), perjudian, chatting negatif dan sampai pada tindakan prostitusi lewat Internet.

Fenomena kekawatiran masyarakat tersebut cukup beralasan, karena Bangsa Indonesia termasuk urutan ke 5 terbanyak di dunia dan urutan ke 2 di Asia sebagai pengakses situs porno.

Internet bisa di akses lewat jaringan kabel telephon atau tanpa kabel seperti Hot Spot dan HP (Hand Phone). Orang bisa mencari apa saja dan melakukan apa saja, baik itu mencari buku, diskusi, belanja barang, promosi, konsultasi kesehatan dan lain sebagainya kecuali di suruh mencari ayam tetangga yang hilang. Bagi mereka yang ingin berbuat negatif, lewat Internet pun bisa dilakukan. Warnet yang pada umumnya disediakan ruang/bilik tertutup, memungkinkan pengguna warnet bebas berbuat apa saja tanpa ada pihak lain yang tahu.

Seberapa besar Warnet membahayakan pelajar…?

Pada dasarnya HP lebih berbahaya dari pada Warnet. Kalau Warnet berada di suatu tempat tertentu yang banyak orang dan ada penjaganya, sementara HP fungsinya juga bisa untuk mengakses Internet dan bisa dibawa kemana-mana. Bahkan HP bisa dibawa bersembunyi di kamar, WC, Kebun dan dimana saja.  

Untuk menghindari pelajar mengakses situs-situs negatif, dengan cara pembinaan mental. Sehingga ketika pelajar mengkases Internet, mereka menempatkan diri pada posisi dimana, tergantung dari modal mental masing-masing individu. Bagi pelajar yang bermental baik, dipastikan tidak akan mengakses situs-situs porno, tetapi pelajar yang bermental jelek, biasanya ke Warnet hanya akan mengakses situs porno. Jadi, kontrol dan kendali Teknologi Informasi dan Komunikasi ini ada pada si penggunanya, bukan ditangan si pencipta.

Maka perlu dibangun benteng pertahanan sejak dini, agar  para pelajar terhindar dari virus yang merusak mental. Benteng pertahanan yang paling kuat adalah mental masing-masing individu. Dimana mental tersebut dibangun dari dalam keluarganya. Lingkungan  keluarga adalah tempat dan waktu yang paling leluasa untuk membina mental. Pelajar yang tak pernah mendapatkan pembinaan mental dengan baik, tentu saja tidak bisa berinteraksi sosial  dan hanya akan membuat keresahan di masyarakat.

0 komentar:

Poskan Komentar